Psikologi Arsitektur

psikologi arsitektur rumah minimalis

Tujuan utama dari sebuah karya arsitektur adalah membuat nyaman penggunanya. Oleh sebab itu, perancang suatu bangunan perlu meperhatikan aspek psikologi kearsitekturan. Bagi para akademisi, psikologi arsitektur lebih dipahami sebagai studi terhadap bangunan dan pengaruhnya terhadap perilaku manusia yang ada di dalamnya atau kajian khusus yang berorientasi pada kondisi psikologis sekelompok pengguna bangunan dengan karakteristik sejenis.

Psikologi arsitektur sesungguhnya menguji hubungan antara variable lingkungan binaan dengan tindakan, pemikiran dan perasaan manusia. Studi psikologi arsitektur menurut arsitek adalah untuk selalu melibatkan dampak psikologi dalam desain. Bangunan tidak dilihat hanya sebagai bangunan saja, melainkan sebuah tempat yang menyenangkan untuk bekerja. Ketika rasa nyaman orang dapat kita penuhi, mereka biasanya merespon secara positif pada lingkungan yang kita desain.

Psikologi manusia dan arsitektur adalah sebuah parameter dalam perencanaan sehingga perencana dapat menciptakan bangunan yang sesuai fungsi dan efienitas penghuninnya. Pada akhirnya konsep-konsep akan ‘privacy’, ‘teritori’, ‘konsep’ jelas dibutuhkan kerjasama dan kepaduan kesemuanya. Psikologi manusia-arsitektural nyata halnya, terjadi nya suatu proses dengan variasi-variasi, ‘batasan-batasan’ tersebut menjadikan proses psiko-arsitektural tidak dapat pernah dapat dihentikan dan terhentikan.

Seperti yang diungkapkan pula oleh akademisi sekaligus pengamat arsitektur Kota Medan, Saufa Yardha, ST, MT, karya arsitektur yang baik adalah yang tidak hanya mampu menghasilkan bangunan bagus secara fisik melainkan membuat nyaman pengguna secara psikologis. “Hal ini harus diterapkan, baik pada karya arsitektur tingkat bangunan pribadi, maupun perkotaan,” ujarnya belum lama ini.

Penerapan Psikologi Arsitektur dalam kehidupan sehari-hari bisa dilihat dari segi desain meja kerja bahkan hingga fasilitas publik. Terkhusus, konsep arsitektur yang diaplikasikan pada ruangan kantor, restoran, fasilitas publik bagi anak-anak, kaum lanjut usia (lansia), dan kaum difabel memang menjadi hal yang menarik. 

Psikologi Perencanaan Pabrik Rokok di Jawa Timur

Salah satu penerapan psikologi arsitektur dapat diamati pada industri rokok di kawasan Provinsi Jawa Timur. 

psikologi arsitektur rumah minimalis

Awalnya, para pekerja pelinting rokok di sana bekerja di sebuah meja yang relatif luas dengan daya tampung sekitar 12 orang. Mereka, bersama rekan sesama pelinting, menjalankan pekerjaan sembari berbicara dan bersenda gurau. Melihat kondisi ini, sang pengawas merasa produktivitas para pekerja menjadi buruk.Untuk meningkatkan produktivitas itu, mejapun diatur dengan sistem bersekat-sekat sehingga tidak memungkinkan untuk bertegur sapa secara intens selama bekerja. Desain meja kerja juga ditukar menjadi bersekat-sekat. 

Namun, bukannya malah meningkat, faktanya, kinerja pekerja cenderung menurun. Hal ini ditengarai disebabkan para pekerja merasa jenuh bekerja di area semacam itu. Hal inilah, yang menurut Saufa harusnya bisa disesuaikan. Sebaiknya, desain meja kerja disesuaikan dengan kebutuhan kerja dan kriteria pekerja. 

  • Model Cubicle

Untuk jenis pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi, terkait penataan dokumen misalnya, sebagaimana lazimnya terdapat di kantor-kantor, sebaiknya menggunakan sekat model cubicle (meja yang terbagi menjadi beberapa segmen oleh sekat). Hal ini bertujuan mengurangi interkoneksi antar pekerja agar konsentrasinya tidak terganggu.

  • Meja Terbuka

Sebaliknya, berseberangan dengan contoh pekerja industri rokok yang tadi dibahas, maka jenis pekerjaan lainnya juga butuh desain yang berbeda. Untuk jenis pekerjaan yang bersifat cenderung statis, tidak membutuhkan konsentrasi tinggi dan kinerja manual (manusia, bukannya mesin), serta penyelesaian dalam jangka waktu yang relatif lama seperti pelinting rokok, ada baiknya mereka dipekerjakan pada desain meja yang terbuka, dan memungkinkan tatap muka satu sama lain. Hal ini diprediksi bisa membuat kinerja pekerja lebih baik.

  • Warna

Selain bentuk, warna juga turut mempengaruhi. Untuk jenis pekerjaan yang berorientasi pada kreativitas, ada baiknya meja diberi warna cerah. Sedangkan pekerjaan yang menuntut konsentrasi tinggi dan cenderung statis, tidak ada salahnya menggunakan warna kalem dan senada.

Psikologi Perencanaan Restoran

Ini masih terkait jarak antar tamu pengunjung. Untuk  segmen pengunjung yang datang dengan berpasangan, biasanya cocok disajikan meja yang relatif kecil dengan kursi yang ukurannya relatif fit sebagaimana ukuran tubuh 1 orang dewasa pada umumnya. Untuk jarak antar pengunjung, diatur agar tidak terlalu dekat agar tetap bisa menjaga privasi. Sedangkan untuk segmen keluarga, cenderung sesuai dengan meja lebar untuk berkumpul individu yang lebih banyak.

Psikologi Perencanaan Fasilitas Publik Bagi Anak, Lansia, dan Kaum Difabel

Penggunaan pendekatan Psikologi Arsitektur juga disarankan untuk fasilitas publik bagi anak, kaum lansia (lanjut usia), dan difabel.

Penggunaan warna bagi fasilitas anak, cenderung menggunakan warna ceria, benda-benda seperti pintu dan jendela dengan pinggiran yang tidak tajam. Demikian dengan lansia. Sebaiknya dibuat jalan setapak khusus dan jarak antarruang ridak berjauhan menghindari kelelahan.

Sedangkan untuk kaum difabel, disiapkan pola tertentu untuk masing-masing area dan tidak banyak belokan. Selengkapnya, disesuaikan dengan disabilitas masing-masing, apakah mereka tuna netra, tuna rungu, ataupun tuna grahita.

“We shape our buildings, thereafter they shape us.” Winston Churchill.

“Architecture is the blend of science, art and technology to provide a meaningful interaction between an audience and the space that they occupy.”

“We are what we are because we have been what we have been, and what is needed for solving the problems of human life and motives is not moral estimates but more knowledge.” 


Sigmund Freud

Oleh karena lebih banyak orang hidup di perkotaan, perancang tata kota memikirkan kembali bagaimana pengaruh bangunan pada suasana hati kita di era “neuro-arsitektur” seperti sekarang.

“Kita membentuk bangunan dan kemudian bangunan membentuk kita,” ujar Winston Churchill pada tahun 1943 sambil mempertimbangkan perbaikan gedung House of Commons (Dewan Rakyat) yang rusak karena bom tersebut.

Lebih dari 70 tahun berlalu, dia pasti akan senang mengetahui bahwa ahli syaraf dan psikolog telah menemukan banyak bukti yang mendukungnya.

Kita sekarang tahu, misalnya, bahwa bangunan dan kota dapat mempengaruhi suasana hati dan kesejahteraan kita, dan sel-sel khusus di daerah otak hipokampus kita selaras dengan geometri dan susunan ruang yang kita tinggali.

Namun, arsitek di perkotaan sering kurang memperhatikan efek kognitif potensial dari ciptaan mereka pada penduduk kota.

Penting untuk merancang sesuatu yang unik dan tiap-tiap individu cenderung mengacuhkan pertimbangan bagaimana hal itu bisa membentuk perilaku orang-orang yang akan hidup di lingkungan tersebut.

Desain kota pengaruhi tubuh

Salah satu temuan Ellard yang paling konsisten adalah bahwa orang sangat terpengaruh oleh pembangunan fasad. Jika fasad itu rumit dan menarik, hal itu akan mempengaruhi orang secara positif, tetapi berpengaruh negatif jika fasadnya sederhana dan monoton.

Misalnya, ketika dia melewati sekelompok barang di bagian depan toko makanan Whole Foods di Lower Manhattan, gairah dan suasana hati mereka anjlok. Mereka juga mempercepat langkah mereka seolah-olah ingin segera keluar dari zona kematian. Mereka mengambil cukup banyak saat mereka sampai di restoran dan toko, di mana (tidak mengherankan) yang mereka laporkan terasa jauh lebih hidup dan hangat.


Vancouver, merupakan salah satu kota yang paling populer untuk ditinggali. Di kota tersebut terdapat kebijakan bahwa bangunan di pusat kota diarahkan untuk memastikan bahwa penduduk memiliki pemandangan yang layak dari pegunungan, hutan, dan samudra dari utara sampai barat.

Psikologi Desain Rumah Tinggal

Dalam mendesain sebuah bangunan rumah tinggal alangkah baiknya apabila kita mempunyai gambaran dan pemahaman akan apa-apa saja yang menjadi tujuan dalam desain arsitektur pada sebuah bangunan. Dengan mengenal beberapa aspek tersebut diharapkan proses desain yang dihasilkan antara klien dan arsitek dapat menghasilkan suatu desain yang memiliki konsep yang kuat dan jelas, terhindar dari bias yang membuat bangunan menjadi kehilangan jati dirinya.

Bagaimana masalah akses pencapaian desain rumah tinggal ke site, masuk ke bangunan hingga sirkulasi di ruang dalam, ketinggian, kelandaian, kecuraman, dll, siapa dan bagaimana keadaan penghuninya nanti, apakah mereka perlu kebutuhan khusus? difabel? ataukah ada kebutuhan lainnya yang spesifik? hal-hal ini bisa menjadi sesuatu yang perlu pemecahannya secara desain, dan karenanya bisa menjadi salah satu dari tujuan desain yang perlu dicapai dalam bangunan rumah tersebut.

Warna Pada Desain Rumah Tinggal

aristek rumah

Selain karena desain arsitekturnya, pemilihan warna rumah yang tepat akan menimbulkan impresi dan daya tarik tersendiri ketika anda melihat sebuah rumah. Pemilihan warna yang tepat juga dapat memperkuat karakter desain rumah. Begitu juga pada ruang dalam, warna dapat menimbulkan kenyamanan psikologis dan visual, serta dapat menciptakan suasana serta tertentu pada ruang.

Sejauh mana pemahaman anda mengenai warna? Banyak teori dikembangkan oleh para ahli mengenai warna. Para ahli fisika mengaitkan warna dengan cahaya. Para ahli psikologi mempelajari warna, kesan dan nuansa yang ditimbulkan. Setiap warna memiliki energi dan efek psikologis tersendiri. Jadi pemilihan warna untuk rumah anda akan memberi nuansa dan harmoni tersendiri yang mewakili karakter penghuninya.

Warna dalam rumah dapat berfungsi sebagai :

  • Fungsi pemberi bentuk (struktural), warna dapat berguna untuk menarik perhatian. Warna dapat memisahkan satu bagian dengan bagian lain dari suatu benda atau ruang. Penerapannya misalnya pada pewarnaan kolom dan balok yang memisahkan ruang-ruang.
  • Fungsi keselamatan dan menjelaskan penggunaan sebuah benda atau ruang. Misalnya warna merah digunakan untuk menandai bagian-bagian berbahaya dari sebuah benda atau ruang. Pintu-pintu diberi warna lebih terang sedangkan dinding diberi warna lebih gelap memberi kejelasan kegunaan untuk menunjukan orientasi pergerakan, sedangkan dindingnya tidak.
  • Fungsi pengantar makna. Warna juga mempunyai daya untuk mengantarkan makna psikologis dan sosial budaya.Pertama, ditinjau dari segi psikologis, jenis-jenis warna dapat memberikan makna sebagai berikut,

Merah: enerjik, kuat, berani, semangat, penuh tekad, terbuka, mandiri.

Jingga : hangat, menantang, terang, intelektual, percaya diri.

Kuning : ekspresif, ceria, menggembirakan, menghidupkan, kecerdasan.

Hijau : natural, menyegarkan, sejuk, keseimbangan, harmoni, tenang.

Biru : inspirasi, spiritual, bersih, tenang, kalem, sensitive, kepercayaan.

Ungu : idealis, visi, protektif, agung, penyembuhan, magis

Merah Muda : romantis, misterius, menggairahkan, membangkitkan minat.

Putih : bersih, dingin, steril, formal, fungsional.

Warna dapat pula memberi makna budaya. Ada warna yang berkesan mahal, ada yang berkesan murah, ada warna yang berkesan antik ada yang berkesan modern. Warna-warna gelap yang berkesan keras seperti hitam, biru tua, coklat tua cenderung berkesan laki-laki, jantan. Sedangkan warna-warna lembut seperti merah jambu, hijau muda, krem (coklat-susu muda) cenderung bersifat kewanitaan.

Fungsi pemberi sentuhan keindahan. Kombinasi warna-warna tertentu pada unsur-unsur yang membentuk suatu benda secara keseluruhan menghasilkan suatu gaya tertentu pula. Gaya modern biasanya mengkombinasikan warna-warna asli meniru warna-warna alam.

Warna yang diterapkan pada ruang-ruang dalam biasanya jenis warna yang menenangkan (soft tones)dan tidak terlalu gelap. Jika ada tampilan warna hard tones, biasanya hanya diterapkan pada satu ruang atau salah satu bidang dinding dengan maksud sebagai pembangkit suasana

atau mood maker agar kita tetap merasa segar. Dapat pula sebuah warna hard tones diterapkan dengan tujuan menimbulkan atmosfer tertentu pada ruang. Dengan gradasi yang tepat dan flow yang seimbang, warna tersebut dapat tampil harmonis.

Desain Rumah : Menentukan Kebutuhan Ruang

Ditinjau dari aspek fungsional, sebuah rumah terdiri dari susunan ruang-ruang yang memiliki fungsi-fungsi berbeda. Rumah yang baik tentu saja harus bisa mengakomodasi semua kegiatan dan aktifitas penghuninya. Selanjutnya anda dapat membuat catatan mengenai daftar kebutuhan ruang untuk rumah anda. Kebutuhan ruang dapat dikelompokan menjadi ruang dalam dan ruang luar.

Pada umumnya ruang dalam sebuah rumah membutuhkan : ruang tamu, ruang keluarga, ruang makan, ruang tidur, kamar mandi, dapur, ruang cuci, ruang jemur, dan gudang. Sedangkan kebutuhan ruang dalam tambahan misalnya ruang musik, perpustakaan, ruang kerja, ruang doa atau mushola, bahkan ruang untuk usaha. Pada ruang luar mungkin anda akan membutuhkan teras, carport atau garasi, taman, kolam, dan sebagainya.

Untuk mendapatkan ruang-ruang yang efisien dan sesuai kebutuhan, kebiasaan dan kegiatan sehari-hari anda dan keluarga menjadi pertimbangan utama dalam menentukan prioritas kebutuhan ruang termasuk luasan ruangnya.

Sebagai contoh, adalah dalam menentukan  kebutuhan ruang tamu. Seberapa sering dan seberapa banyak frekuensi anda menerima tamu? Hal tersebut tentu harus menjadi pertimbangan apakah ruang tamu membutuhkan ruang yang luas atau cukup untuk menerima beberapa tamu saja. Apakah anda sering menerima tamu resmi? Ataukah tamu anda mayoritas keluarga? Anda bisa menerima tamu resmi di ruang teras saja sedangkan alokasi luasan ruang tamu bisa anda gunakan untuk memperbesar ruang keluarga.

Contoh lain adalah dalam menentukan kebutuhan ruang serta luasan kamar mandi beserta perlengkapannya. Apakah diperlukan pemisahan area antara kamar mandi basah dan kering? Apakah kamar mandi kering perlu diintegrasikan dengan ruang wardrobe atau ruang ganti pakaian? Apakah diperlukan perlengkapan sanitary, dimulai dari wastafel, closet, bath tub, shower, dan sebagainya? Bisa juga anda dan keluarga hanya memerlukan kamar mandi yang kecil dan simpel saja. Semua tergantung dari kebiasaan hidup sehari-hari anda dan keluarga.

Efek Psikologis Rumah dengan Tampilan Clean

Mendesain atau merancang rumah huni perlu dipertimbangkan masak-masak. Tak bisa sembarang mendesain lalu ditempati. Ada efek psikologis yang bisa timbul ketika Anda tinggal dalam rumah baru Anda.

Menurut penelitian, rumah dengan desain yang bersih dan rapi bisa membuat Anda lebih tenang dan merasa lebih bahagia. Ruangan yang rapi, tidak berantakan, dengan sedikit perabotan dan aksesorisnya memberikan perasaan ruangan yang lapang. Oleh karena itu, Anda juga  jadi merasa lebih lega. Selain itu, Anda juga bisa jadi terdorong untuk selalu membereskan rumah agar tampilannya tetap rapi. Warna-warna yang digunakan juga sebaiknya warna yang menenangkan seperti warna coklat asli kayu dan warna putih yang netral. Untuk eksteriornya, Anda bisa menggunakan warna abu-abu sebagai variasi dan tambahan tampilan yang kokoh.

Demikianlah artikel kami tentang Psikologi Arsitektur, semoga dapat menambah pengetahuan dan menginspirasi anda untuk dapat di aplikasikan pada rumah impian anda.  Apakah Anda berencana melakukan renovasi atau membangun rumah dan saat ini sedang mencari konsultan jasa desain arsitektur?, Hubungi kami, tim Arsitek Rumahan untuk desain rumah dan bangunan anda

Baca juga.

  1. Mengenal Tangga Rumah
  2. Fungsi Sketsa Bagi Arsitek
  3. Mengenal Zoning Rumah Minimalis

Comments are closed.

UA-68162476-1
%d bloggers like this: